Tersesat, tapi aku bersyukur. Kenapa? karena aku bertemu dengan seorang nenek. Beliu cerita dengan tiba-tiba, kalau semasa mudanya ia sudah tau kalau ia punya saudara sedarah (ia tak mau menyebutkannya dengan kandung) 4 orang. Beliau mengaku kalau cuma 1 saudara laki2 yg hanya sayang sama beliau. Entah menyesal atau tidak, dia berkata padaku saat ia menikah ia tak mengabari ayah kandungnya alias nenek itu tidak menjadikan ayahnya sbg wali.belia berkata,” seharusnyalah Wali yg akan bertanggungjawab atas aku di hadapan ALLAH SWT, tapi meskipun dekat sekalipun ayahku itu tak pernah memelukku, lalu bagaimana aku bisa mencium tangannya? Mata nenek itu berkaca-kaca. “aku bahagia kalau ALLAH memberiku banyak saudara sedarah dulu saat umurku 15 tahun. Tapi mereka kebanyakan cuma memberiku uang jajan, mereka tidak pernah menjenggukku saat sakit, dan tidak pernah memelukku selayak saudara. lalu bagaimana aku bisa berpura-pura akrab dengan mereka?”. saat aku tanya apa nenek itu punya dendam. Beliau menggeleng. “Sampai setua ini, aku tidak tau bagaimana caranya dekat dengan mereka.
